Sabtu, 08 Desember 2012

INFO PAT MORITA

Pat Morita

Morita sebagai Mr. Miyagi di film The Karate Kid, 1984
Lahir Noriyuki Morita
28 Juni 1932
Isleton, California, Amerika Serikat
Meninggal 24 November 2005 (umur 73)
Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat.[1]
Pekerjaan Aktor
Tahun aktif 1967–2005
Noriyuki "Pat" Morita (lahir di California, 28 Juni 1932 – meninggal di Las Vegas, 24 November 2005 pada umur 73 tahun) adalah aktor Amerika Serikat berdarah Jepang yang paling dikenal lewat perannya sebagai Mr. Miyagi dalam seri film The Karate Kid. Perannya tersebut membuatnya dinominasikan untuk Penghargaan Oscar dalam kategori Aktor Pendukung Terbaik pada tahun 1984.

Biografi

Lahir di Isleton, California, pada 28 Juni 1932, Morita terkena tuberkulosa punggung pada usia dua tahun yang membuatnya harus terus keluar-masuk rumah sakit hingga usia 11 tahun. Setelah Perang Dunia II berakhir, keluarganya membuka restoran di Sacramento dan Morita muda pun membantu dengan menghibur para pelanggan dengan lawakannya.
Lulus dari sekolah menengah, ia memperoleh pekerjaan di sebuah perusahaan aeroangkasa, menjadi pemrogram komputer. Saat mencapai jabatan sebagai kepala bagian komputer di perusahaan tersebut, Morita, yang saat itu telah beristri dan menjadi seorang ayah, memutuskan bahwa ia telah memilih jalan hidup yang salah. Iapun kemudian beralih menjadi pelawak pentas (standup comedian).
Namanya mulai dikenal setelah ia berperan dalam serial komedi Happy Days. Tak hanya piawai di film kocak, Pat Morita juga semakin diperhitungkan ketika ia membintangi serial detektif Ohara. Duet Morita bersama Ralph Macchio ketika membintangi The Karate Kid pada tahun 1984 menjadi salah satu loncatan besar dalam kariernya. Setelah itu ia terus bergabung dalam tiga sekuel The Karate Kid selanjutnya. Meskipun berperan sebagai seorang ahli beladiri dalam Kid, Morita tidak pernah mempelajari ilmu beladiri secara formal dan kebanyakan gerakan karatenya dilakukan oleh pemain pengganti.

Sabtu, 01 Desember 2012

SAMURAI








Samurai (侍 atau 士?) adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata "samurai" berasal dari kata kerja "samorau" asal bahasa Jepang kuno, berubah menjadi "saburau" yang berarti "melayani", dan akhirnya menjadi "samurai" yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.
Istilah yang lebih tepat adalah bushi (武士) (harafiah: "orang bersenjata") yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan untuk prajurit elit dari kalangan bangsawan, dan bukan contohnya, ashigaru atau tentara berjalan kaki. Samurai yang tidak terikat dengan klan atau bekerja untuk majikan (daimyo) disebut ronin (harafiah: "orang ombak"). Samurai yang bertugas di wilayah han disebut hanshi.
Samurai harus sopan dan terpelajar, dan semasa Keshogunan Tokugawa berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umumnya adalah kakitangan umum bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan dengan tentara nasional menyerupai negara Barat. Bagaimanapun juga, sifat samurai yang ketat yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.

Etimologi

Perkataan samurai berasal pada sebelum zaman Heian di Jepang di mana bila seseorang disebut sebagai saburai, itu berarti dia adalah seorang suruhan atau pengikut. Hanya pada awal zaman modern, khususnya pada era Azuchi-Momoyama dan awal periode/era Edo pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 perkataan saburai bertukar diganti dengan perkataan samurai. Bagaimanapun, pada masa itu, artinya telah lama berubah.
Pada era pemerintahan samurai, istilah awal yumitori (“pemanah”) juga digunakan sebagai gelar kehormat bagi sejumlah kecil panglima perang, walaupun pemain pedang telah menjadi lebih penting. Pemanah Jepang (kyujutsu), masih berkaitan erat dengan dewa perang Hachiman.
Berikut adalah beberapa istilah lain samurai.
  • Buke (武家) – Ahli bela diri
  • Kabukimono - Perkataan dari kabuku atau condong, ia merujuk kepada gaya samurai berwarna-warni.
  • Mononofu (もののふ) - Istilah silam yang berarti panglima.
  • Musha (武者) - Bentuk ringkasan Bugeisha (武芸者), harafiah. pakar bela diri.
  • Si (士) - Huruf kanji pengganti samurai.
  • Tsuwamono (兵) - Istilah silam bagi tentara yang ditonjolkan oleh Matsuo Basho dalam haiku terkemukanya. Arti harafiahnya adalah orang kuat.

Senjata

Samurai menggunakan beberapa macam jenis senjata, tetapi katana adalah senjata yang identik dengan keberadaan mereka, Dalam Bushido diajarkan bahwa katana adalah roh dari samurai dan kadang-kadang digambarkan bahwa seorang samurai sangat tergantung pada katana dalam pertempuran. Mereka percaya bahwa katana sangat penting dalam memberi kehormatan dan bagian dalam kehidupan. Sebutan untuk katana tidak dikenal sampai massa Kamakura (1185–1333), sebelum masa itu pedang Jepang lebih dikenal sebagai tachi dan uchigatana, Dan katana sendiri bukan menjadi senjata utama sampai massa Edo.
Apabila seorang anak mancapai usia tiga belas tahun, ada upacara yang dikenali sebagai Genpuku. Anak laki-laki yang menjalani genpuku mendapat sebuah wakizashi dan nama dewasa untuk menjadi samurai secara resmi. Ini dapat diartikan dia diberi hak untuk mengenal katana walaupun biasanya diikat dengan benang untuk menghindari katana terhunus dengan tidak sengaja. Pasangan katana dan wakizashi dikenali sebagai Daisho, yang berarti besar dan kecil.
Senjata samurai yang lain adalah yumi atau busur komposit dan dipakai selama beberapa abad sampai masa masuknya senapan pada abad ke-16. Busur komposit model Jepang adalah senjata yang bagus. Bentuknya memungkinkan untuk digunakan berbagai jenis anak panah, seperti panah berapi dan panah isyarat yang dapat menjangkau sasaran pada jarak lebih dari 100 meter, bahkan bisa lebih dari 200 meter bila ketepatan tidak lagi diperhitungkan, Senjata ini biasanya digunakan dengan cara berdiri di belakang Tedate (手盾) yaitu perisai kayu yang besar, tetapi bisa juga digunakan dengan menunggang kuda. Latihan memanah di belakang kuda menjadi adat istiadat Shinto, Yabusame (流鏑馬). Dalam pertempuran melawan penjajah Mongol, busur komposit menjadi senjata penentu kemenangan, Pasukan Mongol dan Cina pada waktu itu memakai busur komposit dengan ukuran yang lebih kecil, apalagi dengan keterbatasannya dalam pemakaian pasukan berkuda.

















Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More